Selasa, 23 Desember 2008

S A K S I bagian 1

Chiba, Jepang, Tahun 1997...

Lelah sekali jika hampir setiap hari pulang jam segini. Matahari nyaris meninggalkan singgasananya sampai - sampai aku butuh penerangan bantuan agar bisa melihat temanku, Nobuko.
"Nobuko, kalau begitu besok aku bisa memnjam Hp-mu, dong!"
"Iya,betul! Akhirnya datang juga setelah sebulan dipesan." Lagian kenapa mesti pesan? Di konter 'hape' kan banyak. Dasar, Nobuko.
"Hei, Misaki, sebentar lagi kan liburan musim panas, bagaimana kalau kita beli baju untuk ke pantai?" Hmm, sounds great.
"Boleh aja. Kemana?"
Belum sempat aku mendengar jawaban Nobuko, konsentrasiku terhalang oleh suara yang terbilang sangat aneh untuk didengar di jalan berpinggirkan kebun panjang dan di saat gelap seperti ini.
"Hei, tunggu... Apa itu?" Aku dan Nobuko mulai berjalan ke arah suara yang jika ditulis bisa dibaca 'srok srok srok'.
Tidak jauh setelah memasuki kebun -sebenarnya bisa disebut hutan-, kami melihat pemandangan yang sangat tidak lazim. Seorang -dari fisiknya sih cowok- sedang menggali sesuatu di tengah keheningan. Srok..Srok..Srok.. Kami menaik-turunkan bahu ke kiri dan ke kanan agar bisa melihat sesuatu yang akan cowok itu kubur karena terhalang tubuhnya yang -cukup- besar.
Sekilas, hanya sekilas, lalu aku dan Nobuko berpandangan. Benarkah yang kami lihat itu? Kami melihat badan -atau tubuh-, persisnya perempuan. Ya, perempuan, badan perempuan tergeletak yang arahnya membelakangi kami. Bisa kurasakan bulu kudukku meremang. Di suasana yang sangat termaram ini, rasanya aku bisa mendengar suara hati tubuh yang sebentar lagi akan masuk ke dalam tanah itu. Masih dalam keadaan syok, Nobuko menyadarkanku.
"Itu, jangan - jangan.. Iih, misaki, kita pergi yuk!" katanya setengah berbisik. "Kita tidak salah lihat, itu pasti..." Lanjutnya saat kami mulai melangkah pergi menuju jalanan.
"Mungkin cuma orang iseng yang menguburkan boneka." Ujarku menghibur diri. Tolol sekali, mana ada orang menguburkan boneka? Untuk apa? Aku sendiri heran dari sudut otak mana kata - kata itu berasal.
Saat berpaling meninggalkan cowok itu, walau aku enggak bisa melihat dengan jelas. Tapi aku bisa merasa tatapan kami bertemu. Lagi - lagi, hanya sekilas.
Firasatku kok jelek...

"Lagi ngapain?"
"Eh?" Sahut kami berdua menanggapi pertanyaan Yoshiro, teman sekelas kami. Lebih tepatnya teman dekat -yang sedikit lagi berpacaran dengan- ku.
"Aku ngomong sama kalian. Daritadi cuma bengong aja ngeliatin gerbang dari jendela. Mau nginap di kelas? Kok nggak pulang?"
"Iya, sebentar lagi..."
"Oh,ya, Yoshiro, bisa temenin kami hari ini? Mumpung pulangnya lagi cepet. Kami mau belanja. Nanti pulangnya kami traktir deh." Nobuko mengalihkan pembicaraan.
"Boleh aja. Tapi apa kalian nggak terganggu kalau ada aku?"
"Nggak apa - apa malah. Tolong ya, Yoshirou."
"Tolong? Memangnya ada apa?"

Di perjalanan... Tepatnya di ujung suatu gang.
"Kami dibuntuti..." Mulaiku. "Oleh seseorang!"
"Kalian yakin sedang dibuntuti? Gimana? Dia ada di sana?" Tanya Yoshiro penasaran sambil menungguku mengintip di balik tembok apakah cowok yang membuntuti kami itu ada di di sana.
"Kayaknya hari ini dia nggak ada. Yuk, kita pergi." Ajak Nobuko sambil ikutan celingukan.
"Memangnya kalian tahu siapa orangnya?" Yoshiro melanjutkan obat penasarannya.
"Sekali lihat kami sudah tahu, 'itu dia'! Tapi nggak tahu persis kayak apa orangnya. Kurang lebih begitu!" Jawabku agak tinggi karena kesal melihat Yoshiro seakan tidak percaya.
"Sejak kapan kalian diikuti?" Lama - lama nyebelin juga nih orang.
"Tiga hari yang lalu." Yoshiro terdiam mendengar jawabanku seperti berpikir.
Tidak perlu waktu lama bagi Nobuko memecah keheningan ini, "Mungkin ada hubungannya dengan kejadian hari sebelumnya? Orang yang tengah mengubur seseorang itu."
"Bukan cuma itu. Yang diikuti Nobuko terus!" Tambahku.
"Tuh,kan. Kalian itu saksi mata. Kita nggak bisa menjamin keselamatan kalian! Lapor polisi aja!"
"Waktu itu kami nggak yakin. Siapa tahu yang dikubur itu bukan orang!" Aku melawan saran Yoshiro.
"Kenapa kalian nggak takut sih! Firasatku seringkali jitu, tahu!"
"Payah! Sejak kapan kamu jadi tukang ramal!" Perang mulut antara aku dan Yoshiro dimulai. Nobuko mencoba melerai dengan mengucap 'hei' dan 'maaf'.
"Sana pulang kalau nggak mau temani kami!" Bentakku mulai panas.
"Tolong kalian berdua jangan bertengkar!" Setengah teriak dari Nobuko. Aku dan Yoshiro langsung terdiam dengan tatapan yang masih belum puas mengeluarkan 'bacot'. Sampai sekarang aku masih heran kenapa kami berdua gampang sekali dibujuk Nobuko. Aku hanya menjawab, "Kami...tidak bertengkar kok." Aku hanya bisa mengatakan itu. Setidaknya itu bisa membuat juru damaiku kembali tertawa tanpa muka berdosa. (Imutnyaa!!)

Sesampainya di butik -atau lebih tepatnya 'hanya' toko baju- aku dan Nobuko langsung mencari baju bertema 'summer in beach'. Tidak peduli Yoshiro masih nge-dumel tanpa ingin dumelannya itu terlihat Nobuko, ia hanya duduk berpangku tangan.
"Yoshiro. Gimana, aku pantas nggak pakai baju ini?" Tanyaku sementara Nobuko masih di dalam fitting room. Dasar Yoshiro, baru melihat aku pakai terusan bertali khas pantai saja, mukanya yang tadi bertemakan dumel, langsung berubah jadi tema 'mupeng'.
"Bagus." Hanya satu kata tapi mukanya memberikan banyak kata. Haha. Dasar cowok!
"Asyik, aku mau beli ini, ah. Cuma beda warna, lho, sama Nobuko. Mau kami pakai ke laut pas liburan musim panas nanti. Bagus, kan?"
Ekspresi Yoshiro yang tadinya mupeng berubah memberikan senyuman teduh dan tulus sambil berkata, "Iya."
Saat itu, nggak ada seorangpun yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya...

"Kayaknya nggak ada artinya aku menemani kalian hari ini." Ucap Yoshiro setelah mengerti tadinya ia bertugas sebagai bodyguard malah jadi tukang bawa belanjaan aku dan Nobuko. Kami menanggapinya dengan tertawa.
"Wah! Sudah jam 18.30!" Tukas Nobuko.
"Baru jam 18.30" Kata Yoshiro sedikit sombong. "Kenapa? Kapan lagi kan kita makan - makan di McD bertiga kayak gini?"
"Nobuko diberi jam bebas sampai jam 19.00 aja." Jelasku pada Yoshiro. "Kami antar ya?"
"Tidak usah! Kalian kan sudah temani aku tadi. Kalian masih mau jalan - jalan kan? Terima kasih sudah menemani kami, Yoshiro. Kamu antar misaki aja ya?" Tolak Nobuko sembari mengambil tas serta belanjaannya dan beranjak dari tempat duduknya.
"Eh, tapi.. Kamu nggak apa - apa pulang sendirian, Nobuko?"
Sambil berjalan pergi dan mengangkat jempolnya ia berkata, "Nggak apa - apa, kok!"


To be continued....
it will be posted tomorrow. Be patient, readers...

4 komentar:

Banana9492 mengatakan...

reii, mau nanya deh. kenapa bunyi ngegali nya harus 'srok..srok..srok'. yang tadi nya serem kok gue malah jadi ketawa dah? hahaha ditunggu ya lanjutannya, hehehe

YouR HighnEsS wish mE . . . mengatakan...

weh..jadi suasana seremnya ilang gara2 srok2 ya??
(gw jg ketawa bgt cit liat komen loe..)
wkwkwk!!!
yoi,thx yup!

Anonim mengatakan...

hihihi.. misaki..
kak rei itu ide dari mana koq tiba" bisa kepikiran ngubur boneka deh ??
hahaha..
tapii bikin merinding jugaa..
^^
aku tunggu yah "SAKSI bagian 2"

YouR HighnEsS wish mE . . . mengatakan...

klo pengen tau semua itu asalnya darimana, liat aja ya di SAKSI bagian 2.. hehehe... thx alot!