Selasa, 23 Desember 2008

S A K S I bagian 2

Pukul 21.10

Aku sudah pulang tapi Yoshiro belum. Ya, ia sedang singgah dulu ke rumahku (ngapel). Kami mendiskusikan akan nonton film apa saat kencan nanti. Tiba - tiba mama memanggilku karena ada telepon dari mamanya Nobuko..
"Halo, selamat malam. Ya, saya misaki. Ada apa, Tante? . . . . Dia tidak ke sini, Tante. Ada apa? . . . . Eh?"

Yoshiro melompat saat aku membuka pintu dengan kencang -bunyinya juga pastinya- karena aku terlalu terburu - buru setelah menerima telepon dari mamanya Nobuko.
"Ada apa, sih? Bikin kaget aja! Teleponnya lama sekali, ada apa?" Tanya Yoshiro dengan masih memasang tampang kaget.
"Yoshiro, kita harus keluar lagi."
"Eh, memangnya ada apa?"
"Nobuko nggak pulang ke rumahnya! Sejak berpisah dari kita...sampai sekarang!!" Aku tidak tahu bagaimana tampangku saat mengatakan itu ke pada Yoshiro. Aku hanya ingin menemukan Nobuko!
Aku berkata pada Yoshiro sambil mengambil Hp di atas meja belajar. "Aduh!"
"Kenapa, Misaki?"
"Aku tidak punya pulsa telepon, Yoshiro. Hanya bisa SMS."
"Aku juga tidak, Misaki. Ah, banyak telepon umum! Wartel jam segini juga masih banyak yang buka! Ayo!"


Di tengah gelapnya malam dengan sedikit lampu jalan, aku dan Yoshiro terengah - engah setelah mencari Nobuko ke rumah teman - teman.
"Huh, dicari kemana - mana nggak ada! Kenapa nggak kuantar waktu itu ya?" Desah Yoshiro menyesal. "Sekarang sudah jam berapa, Misaki?"
"Sudah hampir jam 22.00. Aneh sekali dia belum pulang jam segini." Jawabku sambil melihat jam di handphone. Mendadak aku teringat sesuatu. Oh, betapa bodohnya aku!
"Aku lupa..."
"Eh?" Yoshiro mendongak dari membungkuknya.
"Nobuko kan bawa Handphone yang baru dibelinya! Kalau kuhubingi dia pasti akan membalas. Kita bisa tahu di mana dia berada kan?" Bodoh! Kenapa aku bisa lupa kalau Nobuko sudah membeli Hp? Ini Hp pertamanya, sih, aku kebiasaan mengenalnya tanpa Hp.
"Ide bagus! Kenapa tak terpikirkan daritadi ya?"
Dengan berusaha secepat - cepatnya tanganku mengetik SMS, aku mengetik..

~ Nobuko, kau ada dmana??? ~

Tidak ada sedetik setelah mengetik tanda tanya terakhir, aku langsung mengetik SEND.
"Sudah. Tinggal tunggu balasannya."
Yoshiro mengajakku ke rumah Nobuko, "Hei! Ayo kita ke rumah Nobuko untuk bicara dengan ibunya."
"Ayo!"

Kami berdua disambut oleh mamanya Nobuko dengan ceria tanpa bisa menyembunyikan rasa cemas dari wajahnya.
"Masuk, Misaki, Yoshiro."
"Selamat malam, Tante. Maaf mengganggu."
"Tidak apa - apa, masuklah. Tante ingin bertanya tentang Nobuko."
Kami berjalan memasuki ruang tamu rumah Nobuko yang bergaya 'lesehan'.
"Tunggu sebentar, ya. Tante buatkan teh."
"Tidak usah, Tante! Kami hanya sebentar." Aku menyela buru - buru dengan alasan yang SANGAT klasik.
"Tidak apa - apa. Dasar Nobuko, ke mana saja, sih, dia?" Beliau berkata seperti itu dengan tertawa kecil sambil mengerutkan dahi.
Mungkin mamanya tidak tahu kalau akhir - akhir ini Nobuko diikuti oleh orang. Apa aku harus bicara terus terang pada mamanya?

"Jadi kalian bersama sampai jam 18.30? Dia tidak bilang akan pergi ke mana lagi?"
"Tidak, kok. Tapi tadi aku sudah mengirim SMS ke Hp-nya." Jawabku sopan.
Tiba - tiba Hp-ku berbunyi, pertanda SMS masuk. Sontak aku mengambil Hp dan Yoshiro ikut memiringkan bahunya agar bisa ikut membaca. Dari Nobuko! Isinya...

~ Aku nggak bs pulang ~

Aku dan Yoshiro berpandangan pertanda bingung. Tidak bisa pulang? Kenapa?
"Nggak bisa pulang? Aneh, mungkin dia menginap di rumah teman yang lain." Aku menerka layaknya detektif.
"Dia sudah memberi kabar, berarti dia baik - baik saja kan?" Yoshiro menyemangatiku.
"Ya, namanya juga masa puber." Mama Nobuko mengikuti alur pembicaraan. "Tante bisa mengerti kalau dia mau bebas, tapi setidaknya dia harus telepon ke rumah!" Lanjut, "Baiklah, Tante biarkan dia menginap dulu. Tapi besok harus Tante beri pelajaran!"
Aku dan Yoshiro tersenyum.
"Maaf sudah menyusahkan kalian berdua, ya. Pulanglah, sudah malam."
"Ya, Tante." Tidak terasa jam menunjukkan pukul 22.35. Termasuk kurang ajarkah bertamu ke rumah orang walau bermaksud memberikan informasi tentang 'anak hilang'?

Di jalan pulang, aku masih belum bisa berlega hati. Serasa yang meng-SMS-ku tadi bukan Nobuko. Hatiku gelisah, bahkan gandengan tangan Yoshiro pun belum bisa menenangkan hatiku.
"Misaki, dia pasti baik - baik saja. Kan sudah menjawab SMS-mu. Besok dia pasti muncul di sekolah." Ujar Yoshiro sambil merangkul bahuku. Belum bisa menenangkan hatiku.


Besoknya, di sekolah...
Nobuko tidak tampak sama sekali.
Dengan berpura - pura tenang aku menanyakan hampir semua temanku dan teman Nobuko bersama Yoshiro. Jawaban mereka...

"Nobuko? Wah, nggak tahu. Cuma lihat kemarin waktu bubar sekolah."
"Dia nggak menginap di rumahku, kok."
"Aku juga ditelepon mamanya."
"Dia bersama kalian, kan?"

Aku panik. Tapi aku hanya bisa membenamkan wajahku dengan menunduk dan bersembunyi di antara tangan - tanganku sendiri. Yoshiro Menggoreskan jari - jari ke pelipisnya seperti sedang berpikir keras.
"Yoshiro, tadi aku sudah telepon ke rumahnya, tapi kata mamanya dia juga belum pulang. Gimana nih?"
"Hei, Misaki."
"Hm?"
"Jumlah absen ijin -lebih tepatnya bolos- ku masih sedikit, nih."
"Hah?"
"Kita bolos aja, yuk?" Aku mengerti bahwa yang dimaksud Yoshiro adalah 'cabut'.
Aku harus mencari Nobuko. Karena aku semakin gelisah.

Di tengah jalan menunaikan proyek 'cabut', kami bertemu teman sekolah kami -yang ternyata juga menjalankan proyek yang sama-, Yasaka dkk.
"Yasaka, kalian lihat Nobuko?" Tanya Yoshiro. Ia tidak membiarkanku berbicara dengan 'genk cabut' itu.
"Nobuko? Wah, nggak lihat, tuh. Lho, kalian nggak sekolah?"
"Kamu sendiri kenapa nggak sekolah?" Yoshiro melemparkan pertanyaan Yasaka.
"Ah, iya juga, ya. Hahahaha" Yasaka dkk tertawa - tawa yang membuat aku kesal.
"Jangan ribut! Kalian kan bisa diandalkan, bantu kami mencari Nobuko!" Yasaka terdiam, berpikir. Tak lama bibirnya menyeringai dan hidungnya 'sumringah'.
"Apa boleh buat kalau Misaki yang minta tolong. Kalau yang lain, sih, kami nggak peduli. Ayo semuanya ikut bantu!" PErintah Yasaka kepada teman - temannya yang tengah minum -entah minum apa- dan merokok -entah isi rokok itu apa-.
"Terima kasih, ya. Kalau sudah ketemu, SMS atau telepon ke Hp-ku aja."
"Oke!" Kami pun berpencar menjadi beberapa kelompok -aku bersama Yoshiro tentunya- ke berbagai tempat yang sekiranya sering didatangi Nobuko.

Sore pun menjelang...
"Gimana, nih, Misaki. Nggak ada yang melihatnya." Yoshiro membuyarkan lamunanku.
"Sepertinya Nobuko memang diikuti."
"Masa, sih?" Yoshiro seakan tidak percaya.
Nobuko... Sudah kucari kemana - mana, tetap nggak ketemu. Waktu berlalu membuat kegelisahanku semakin menguat.
"Kenapa begini? Padahal begitu banyak orang, kenapa aku nggak bisa menemukan satu orang aja?" Sesalku.
"Hm, Misaki. Mungkin dia ke hutan. Hutan yang kalian ceritakan itu."
"Tapi kenapa dia harus kesana, Yoshiro."
"Cuma firasatku aja. Tapi, siapa tahu dengan ke sana kita bisa tahu sesuatu."
Aku berpikir.. Firasat ya? Apa yang kurasakan daritadi malam ini dinamakan firasat? Padahal aku nggak mau ke sana lagi. Tapi aku teringat kata - kata Yoshiro waktu itu, 'Firasatku seringkali jitu, tahu!'. Mungkin sebaiknya saat ini aku percaya pada Yoshiro.
"Yuk, kita ke sana."
Mungkin firasatnya memang jitu. Aku nggak mau kembali lagi ke sana. Lima hari yang lalu kami melihat lelaki aneh itu. Kami adalah saksi mata.

Hari mulai gelap. Aku dan Yoshiro menyusuri jalan pulang yang selalu aku dan Nobuko tempuh. Selalu berdua.
"Misaki, gimana Hp-mu? Ada balasan?"
"Tidak ada. Hanya balasan yang kemarin aja."
"Oh, begitu. Gerah sekali misaki. Aku mau beli minuman dingin, kamu mau?"
"Tidak terima kasih." Tidak ada nafsu minum padahal suaraku serat dan tercekat.
"Baiklah, tunggu ya."
Aku ingat, sekitar 50 meter dari sini ada bukit. Mungkin dari sana pemandangan terlihat jelas. Aku berjalan memasuki kebun panjang -bisa disebut hutan kecil- dengan pikiran menerawang kemana - mana. Saat aku menoleh aku melihat Yoshiro bertemu Yasaka di mesin penjual minumam otomatis di seberang. Wajah Yasaka menunjukkan bahwa hasilnya 'nihil'.
Aku tetap berjalan memasuki hutan mencari arah ke bukit tanpa kusadari ada seseorang di belakangku. Bisa kurasakan tiba - tiba sepasang tangan besar membekap mulutku dan membanting tubuhku ke tanah. Saat tangannya terlepas dari mulutku, aku mencoba berteriak memanggil Yoshiro. Tapi sepertinya percuma, teriakanku bersamaan dengan suara jatuhnya kaleng minuman soda -mungkin milik Yasaka- yang cukup kencang hingga aku tidak tahu apakah suaraku terpendam.
Aku panik, aku mencoba berlari secepat mungkin. Tapi dia lelaki, berbadan besar dengan baju tertutup dari leher hingga memakai sarung tangan. Ia berhasil menjatuhkanku kembali ke tanah dengan sekali rangkulan. Aku merasa tulang - tulangku patah tidak karuan. Aku memberontak, berusaha melepaskan cengkraman tangan besar ini. Sekilas kulihat wajahnya, benar. Benar, dialah cowok mencurigakan itu. Dialah yang membuntuti Nobuko dan aku. Kau kemanakan Nobuko, sialan! Ia mencekikku!
Di kejauhan, aku bisa mendengar suara Yoshiro dan Yasaka berteriak mencariku. Tapi aku sangat tercekat, suaraku tidak keluar. Aku di sini, Yoshiro..!!! Di tengah pemberontakanku, lelaki itu berbisik mengeluarkan suara yang tidak enak didengar.
"Saksi mata..harus..dilenyapkan!" Terpatah - patah karena ia juga harus mengeluarkan tenaga untuk mencekik dan menahan tubuhku agar tidak meronta. Saat aku merasa mulai kehilangan kesadaran, tiba - tiba...

~PIK PIK PIK PIK PIK!~

Bunyi itu membuat lelaki itu melompat menjauhiku. Wajahnya ketakutan. Bunyi itu berasal dari Hp di tasku, pertanda SMS masuk. Otomatis bunyi itu mengundang Yoshiro dan Yasaka menemui lokasiku sebelum sang lelaki melarikan diri. Dari jauh Yoshiro melempar lelaki itu dengan kaleng minuman soda hingga lelaki itu tersungkur.
Yasaka menghampiriku, "Kau tidak apa - apa, Misaki?"
"Tangkap dia, Yasaka!" Perintah Yoshiro masih dari jauh karena Yasaka lebih dekat dengan posisi lelaki itu. Yasaka mengambil sebilah kayu dan -kalian tahu apa yang dilakukannya-. Sementara mereka mengeluarkan suara bak - buk dari posisi agak jauh, aku mengambil Hp yang tadi cukup menyelamatkanku. Dari Nobuko! Tapi isinya...

~ ~

KOSONG? Kenapa SMS kosong? Entah ini betul atau tidak, entah apakah aku berhalusinasi, ada yang memanggilku. Aku kenal suara ini, suara yang lembut, teduh dan selalu membuatku tenang hanya dengan ia memanggilku.
"Misaki."
Aku menoleh, ke arah menuju hutan lebih dalam. Sungguh, nyatakah ini? Aku melihat sosok Nobuko tersenyum padaku. Oh, aku rindu senyum itu. Nobuko berdiri di samping pohon tanpa kurang sesuatu apapun. Ia hanya tersenyum, bahkan aku berani bertaruh bahwa ia memanggilku tadi tanpa membuka mulutnya.
"Misaki!" Yoshiro dan Yasaka datang. "Kamu baik - baik saja?"
"Yoshiro, mana orangnya?" Aku tidak punya tenaga untuk berkata.
"Sudah diamankan oleh anak buahku dan sekarang sedang dijaga oleh mereka. Sepertinya lelaki itu pingsan, tapi tenang saja." Jelas Yasaka.
"Yasaka," aku memanggilnya, "Punya pulsa? Boleh pinjam Hp-mu?"
"Boleh, mau telepon siapa?" Aku sudah mengambil Hp-nya dari tangan Yasaka.
Wajah Yoshiro berubah seperti teringat sesuatu. Aku menekan nomor yang bahkan belum sempat aku hapal karena saking barunya nomor itu diaktifkan. Tidak lama setelah kupencet CALL, terdengar ringtone dari lagu kesayangan Nobuko. Aku berlari mencari suara itu berasal. berlari dan teru berlari.
"Nobuko..."

Hiruk - pikuk mulai memadati hutan yang sebelumnya sepi itu. Polisi dan ambulan datang memadati suasana. Tidak jauh dari tubuh wanita yang dikuburkan sebelumnya, Nobuko ditemukan terbujur kaku. Hutan ini begitu dekat dengan rumahnya, tapi ia malah meninggal di sini. Terbayang ekspresi Nobuko yang ceria saat terakhir berpisah di McD.

'Eh, tapi.. Kamu nggak apa - apa pulang sendirian, Nobuko?'
'Nggak apa - apa, kok!'

Kamu bohong. Nobuko, kamu bohong! Kamu bilang tidak apa - apa! Air mataku membasahi kemeja sekolah Yoshiro karena ia sedang memelukku. Aku tidak peduli aku sesak napas, aku tidak bisa merasakan bahwa aku sedang berdiri, aku tidak bisa merasakan hangatnya dada dan tangan Yoshiro yang melindungiku.

Beberapa hari kemudian kami memasuki liburan musim panas. Menurut keterangan polisi, Nobuko meninggal karena dicekik. Pelakunya mengaku, dia membunuh Nobuko pada tanggal 10 Juli jan 19.15.
"Aneh sekali, ya. Pelakunya pasti berbohong. Kenapa 3 jam setelah pembunuhan dilakukan SMS dari Nobuko bisa masuk?" Yoshiro berujar.
Benar, menurut keterangan polisi Nobuko meninggal pukul 19.15. Tapi aku menerima SMS-nya pada pukul 22.29.
"Lalu, ini pesan dari siapa?" Lanjut Yoshiro.
Aku nggak menganggap ini aneh. Mungkin karena dia muncul dihadapanku meski telah meninggal. Pasti pesan kosong itu juga dari Nobuko. Aku juga saksi, sama seperti dia. Kalau nggak ada pesan masuk saat itu, aku pasti sudah mati. Nobuko menyelamatkanku.
"Kamu mengetik SMS untuk siapa?" Selalu Yoshiro yang berbicara...

~ Kamu ada di mana? ~

"Untuk Nobuko." Jawabku setelah menunjukkan isi pesannya. "Kira - kira sampai nggak ya?"
"Ngaco! Ibunya kan sudah bilang sama kita kalau beliau menjual Hp-nya Nobuko."
Aku hanya tersenyum. Sembari menyusuri nuansa musim panas dengan berjalan di trotoar pertokoan seperti pasangan yang lain, seketika aku melihat diriku di kaca suatu pertokoan. Aku meringis, melihat aku tengah memakai baju terusan yang kubeli bersama Nobuko. Kami berjanji akan memakai terusan ini bersama jika ke pantai nanti. Hanya saja kali ini aku memakai kaos lengan pendek di dalamnya (dan itu membuat Yoshiro sedikit kecewa).

~PIK PIK PIK PIK!~

Lamunanku buyar, kaget hingga aku melepaskan gandenganku dari tangan Yoshiro. SMS? Dari siapa? Aku tidak bisa berkata - kata, hanya terdiam dan makin lama mataku panas sehingga mengeluarkan banyak air.
Yoshiro bingung, "Misaki, ada apa? SMS kosong lagi? Kok sampai menangis? Misaki?"
Aku tidak menjawab, hanya memberikan Hp-ku pada Yoshiro agar ia membacanya. Kamu ada di sini Nobuko... Selalu di sini...
"SMS-nya sampai kan, Yoshiro?"
Yoshiro tersenyum sedih, merangkulku dan menenggelamkanku ke pelukannya sambil tangan yang satu memegang Hp-ku yang bertuliskan...

~ From : Nobuko ~

~ Aku ada di sini... ~

*End*




Original Re-make by Rei
from one wonderful title "WITNESS" in Seven Colours Myth Comics by Emura


Dari Sub-judul komik Witness dengan banyak perubahan (kecuali dialog) tanpa mengubah alur cerita dan pesan yang ingin disampaikan.

Thanks for all the readers,


Rei, the Re-maker
Leave the comment(s) please...

Tidak ada komentar: